Model akar rumput dikembangkan oleh Smith, Stanley & Shores pada tahun 1957. Model akar rumput atau disebut dengan the grass roots model berbeda dengan rekayasa model administrasi. Misalnya model ini diawali oleh guru, pembina disekolah dengan mengabaikan metode pembuatan keputusan kelompok secara demokratis dan dimulai dari bagian-bagian yang lemah kemudian diarahkan untuk memperbaiki kurikulum tertentu yang lebih spesifik atau kelas-kelas tertentu. Dalam model ini didasarkan pada pertimbangan bahwa guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna pengajaran dikelasnya. Jadi bedanya pada bila model Administrasi bersifat sentralisasi pada model akar rumput ini bersifat desentralisasi. Hal ini memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia-manusia yang mandiri dan kreatif.
Orientasi yang demokratis dari rekayasa ini bertanggung jawab membangkitkan 2 asumsi yang sangat penting yaitu :
1. bahwa kurikulum hanya dapat diterapkan secara berhasil apabila guru dilibatkan secara langsung dengan proses pembuatan dan pengembangannya.
2. bukan hanya para profesional, tetapi murid, orang tua, anggota masyarakat lain harus dimasukkan dalam proses pengembangan kurikulum.

Prinsip-Prinsip Model Akar Rumput
Guru sebagai kunci dalam rekayasa kurikulum yang efektif, digambarkan pada 4 prinsip dibawah ini :
1. kurikulum akan baik apabila kemampuan profesional guru baik.
2. Kompetensi guru akan membaik apabila guru terlibat secara pribadi dalam masalah perbaikan/revisi kurikulum.
3. Jika guru ikut serta dalam membentuk tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam memilih, mendefinisikan, memecahkan masalah yang akan dihadapi, mempertimbangkan dan menilai hasil maka keterlibatannya paling terjamin.
4. Setiap orang yang bertemu dalam kelompok dan bertatap muka, mereka akan dapat memahami satu sama lain dengan lebih baik dan mencapai suatu konsensus berdasarkan prinsip-prinsip dasar, tujuan dan rencana. (Stanley, Smith and Shores 1957:429)
Prinsip ini bersifat operasional, karena guru didorong untuk bekerja secara kooperatif dalam merencanakan kurikulum baru. Dorongan terjadi bila pihak administrator menyediakan jabatan, waktu luang, material dan rangsangan lain yang kondusif terhadap perencanaan kurikulum.

Kelebihan Model Akar Rumput
Dari penjelasan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kelebihan dari Model Akar Rumput ini adalah pengikutsertaan semua komponen sekolah dari kepala sekolah, guru, siswa bahkan orang tua siswa. Meskipun dalam hal ini tidak mengetahui apakah itu kurikulum akan tetapi demi tanggung jawab dan kepentingan dari siswa maka hal-pengembangan kurikulum yang dilakukan harus melibatkan orang tua siswa.

Kelemahan Model Akar Rumput
Kelemahan model ini adalah menerapkan metode partisipasi yang demokratis dalam proses yang khusus, bersifat teknis yang kompleks. Ini tidak berarti bahawa keputusan masyarakat umumnya tidak perlu diperhatikan atau para guru tidak boleh diberi peran dalam rekayasa kurikulum. Ini hanya untuk menyatakan bahwa peran dasar pemikiran satu suara tidak atau belum tentu menghasilkan sesuatu yang terbaik dalam suatu situasi, otoritas tertentu amat diperlukan. Namun perlu diingat bahwa model ini lebih memberikan konstribusi awal dalam memperkuat landasan pembuatan keputusan kurikulum dan dalam hal itu model ini bertanggung jawab terhadap keinginan-keinginan masyarakat.

Modifikasi
Model pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Diberi nama Grass root karena inisiatif dan gagasan pengembangan kurikulum datang dari seorang guru sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah.
Hal itu didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah :
1.Perencana
2.Pelaksana
3.Penyempurna dari pengajaran di kelasnya
Dari beberapa kajian di atas, maka dapat ditemukan ciri-ciri dari grass root model yaitu :
Guru memiliki kemampuan yang professional. Keterlibatan langsung dalam perumusan tujuan, pemilihan bahan dan penentuan evaluasi. Muncul konsensus tujuan, prinsip – prinsip maupun rencana – rencana diantara para guru. Bersifat desentralisasi dan demokratis
Pengembang Kurikulum
Dalam mengembangkan suatu kurikulum banyak pihak yang turut berpartisipasi yaitu administrator pendidikan, ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru dan orang tua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-pihak tersebut yang secara terus menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum adalah administrator, guru dan orang tua.
1. Peranan para administrator pendidikan :
Para administrator pendidikan terdiri atas :
a. Direktur bidang pendidikan
b. Kepala pusat pengembangan kurikulum
c. Kepala kantor wilayah
d. Kepala kantor kabupaten, kecamatan
e. Kepala Sekolah
Peran para administrator di tingkat pusat ( direktur dan kepala pusat ) yaitu :
1) Menyusun dasar-dasar hukum
2) Menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum
3) Atas dasar dari peranan para administrator pusat, maka para administrator daerah ( kepala kantor wilayah, kabupaten, kecamatan, kepala sekolah ) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Para kepala sekolah ini sesungguhnya yang secara terus-menerus terlibat dalam dalam mengembangkan dan mengimplementasi kurikulum, memberikan dorongan dan bimbingan kepada guru-guru. Walaupun dapat mengembangkan kurikulum sendiri, tetapi dalam pelaksanaannya sering harus didorong dan dibantu oleh para administrator. Administrator lokal harus bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mengkomunikasikan sistem pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di kelas. Peranan kepala sekolah lebih banyak berkenaan dengan implementasi kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengembangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figur kunci di sekolah, kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhi suasana sekolah dan pengembangan kurikulum.

2. Peranan para ahli
Mengacu pada kebijaksanaan yang ditetapakan pemerintah, maka peranan para ahli yakni
a. Memberikan alternatif konsep pendidikan dan model kurikulum yang dipandang paling sesuai dengan keadaan dan tuntuatan di atas.
b. Berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum baik dalam tingkat pusat maupun pada tingkat daerah, lokal bahkan sekolah.
c. Memilih materi bidang ilmu yang mutakhir dan sesuai dengan pengembangan tuntutan masyarakat.
d. Menyusun materi ajaran dalam sekuens yang sesuai dengan struktur keilmuan, tetapi sangat memudahkan para siswa untuk mempelajarinya.
3. Peranan Guru.
Guru memegang peranan yang sangat penting baik di dalam perencanaan maupu pelaksanaan kurikulum.
Beberapa peran guru sebagai berikut :
a. Sebagai perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya.
b. Sebagai penerjemah kurikulum yang datang dari atas.
c. Mengolah, meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya.
d. Melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap kurikulum.
e. Menilai perilaku dan prestasi belajar siswa si kelas
f. Menilai implementasi kurikulum dalam lingkup yang lebih luas
g. Sebagai seorang komunikator, pendorong kegiatan belajar, pengembang alat-alat belajar, pencoba, penyusunan organisasi, manager sistem pengajaran
h. Pembimbing baik di sekolah maupun di masyarakat dalam hubungannya dengan pelaksanan pendidikan seumur hidup
i. Sebagai pelajar dalam masyarakatnya
j. Menciptakan kegiatan belajar mengajar, situasi belajar yang aktif yang menggairahkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreativitas anak.
4. Peranan orang tua murid.
Peranan orang tua murid dalam pengembng kurikulum yaitu :
Melalui pengamatan dalam kegiatan belajar di rumah, laporan sekolah, partisipasi dalam kegiatan sekolah dalam bentuk pelaksanaan kegiatan belajar yang sewajarnya, minat yang penuh, usaha yang sungguh-sungguh. Kegiatan –kegiatan tersebut akan memberikan umpan balik bagi penyempurnaan kurikulum.

Daftar Pustaka
Buku Manajemen Kurikulum Bab 4: Fungsi-Fungsi Manajemen Kurikulum
Buku Pengembangan Kurikulum
http://puja.student.fkip.uns.ac.id/
posting 8 September 2009
Efendi, M. 2009. Kurikulum dan pembelajaran pengantar kea rah pemahaman KBK, KTSP, dan SBI. Malang : FIP