Learning by doing…

OPTIMALISASI STRATEGI PEMBELAJARAN

A. Peningkatan Efektivitas Strategi Pembelajaran

Faktor penentu kefektifan strategi pembelajaran meliputi :

  1. Struktur pembelajaran

Struktur pembelajaran efektif pada dasarnya mencakup komponen :

    1. pendahuluan pembelajaran
    2. penjelasan dan klarifikasi isi pembelajaran secara jelas
    3. monitoring terhadap pemahaman anak
    4. pemberian waktu untuk praktek/berlatih
    5. fase penyimpulan dan penutupan pembelajaran
    6. pendalaman secara terstruktur maupun mandiri dan review.

 

  1. Motivasi siswa

Sejumlah variabel motivasi anak meliputi:

    1. mengacukan belajar anak dengan interes/minat anak diluar sekolah
    2. menyesuaikan aktivitas belajar anak dengan kebutuhan anak
    3. kebaruan dan kebervariasian aktivitas belajar
    4. pengalaman sukses anak atas belajarnya
    5. tensi-tekanan yang mengarahkan tingginya kepedulian belajar anak
    6. atmosfir/iklim psikologis kelas yang kondusif untuk belajar
    7. monitoring terhadap kinerja anak
    8. belajar yang menantang (Levin dan F. Nolan; 1996:98-103).
  1. Efektasi guru

Dalam riset membuktikan bahwa guru-guru yang memberikan respon dan kesempatan, umpan balik dan partisipasinya, belajar anak cenderung meningkat cerdas (Levin dan F. Nolan; 1996:103). Kesimpulannya, ekspektasi guru terhadap anak, berpengaruh positif terhadap belajar anak.

  1. Pertanyaan-pertanyaan terhadap kelas

Diantara semua jenis metode atau teknik pembelajaran, pertanyaan merupakan metode atau teknik pembelajaran yang memiliki multi guna. Pertanyaan dapat digunakan untuk menilai kesiapan dan kematangan anak  Untuk mempelajari sesuatu topik, dengan pertanyaan dapat digunakan untuk mengarahkan minat, motivasi dan perhatian anak, mengarahkan pembentukan konsep secara benar, untuk mendeteksi pemahaman anak, mengarahkan pemahaman anak atas batas-batas tugas-tugas yang perlu di kerjakan, membimbing perilaku positif dan keterlibatan anak dalam belajar.

  1. Memaksimalkan waktu belajar

Carroll dalam Syamsudin (1983:84) berasumsi bahwa, jika setiap siswa diberi kesempatan belajar dengan waktu yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masing-masing anak, maka mereka akan mampu mencapai tarap penguasaan yang sama. Oleh karena itu, tingkat penguasaan belajar merupakan fungsi dari proporsi jumlah waktu yang disediakan guru, dengan jumlah waktu yang diperlukan anak untuk belajar. Meskipun demikian, motivasi belajar, kemampuan memahamai pembelajaran dan kualitas pembelajaran merupakan faktor-faktor yang ikut berpengaruh terhadap kualitas penguasaan belajar.

  1. Penerapan pembelajaran konstruktivis

Pandangan konstruktifis tentang belajar menurut Brophy dalam Sulton, (1997:1), dipengaruhi oleh pandangannya terhadap ilmu pengetahuan.

Konstruktifis memiliki dua pandangan dasar terhadap sifat ilmu pengetahuan. Pertama, empiricist-oriented constructivists, pandangan ini melihat ilmu pengetahuan berada pada lingkungan eksternal, serta keberadaannya tidak bergantung pada aktifitas kognitif siswa. Karena itu dalam pandangan Case yang dikutip oleh Brophy dalam Sulton (1997:1) menyarankan dalam pembelajaran hendaknya guru memberikan bantuan kepada siswa dalam membangun konsep-konsep yang akurat.

Kedua, radical constructivists, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan terbentuk dalam struktur kognisi siswa. Oleh karena itu, Rumel Hart & Norman yang dikutip Brophy dalam Sulton, (1997:1) menyarankan bahwa dalam pembelajaran, guru dituntut untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk membangun konsep yang akurat.

 

B. Pembelajaran Optimal

1. Peranan anak dalam belajar

Untuk menunjang proses pembelajaran optimal, anak dituntut mempunyai hal-hal sebagai berikut:

    1. kemampuan mendapatkan dan menggunakan informasi
    2. ketrampilan intelektual dan kognitif yang tinggi
    3. kemampuan belajar melalui berbagai strategi dan setting belajar
    4. kemampuan menilai hasil belajar sendiri
    5. memiliki motivasi belajar yang tinggi
    6. dimilikinya pemahaman diri sendiri.

Pembelajaran optimal menuntut anak untuk mengambil peran aktif dalam belajarnya. Pengambilan bagian secara aktif dalam kegiatan belajar terindikasikan oleh adanya keterlibatan mental, emosional anak disamping keterlibatan fisik. Keterlibatan mental intelektual dan emosional sekaligus berarti pembangkitan motivasi.

2.  Peranan guru dalam proses pembelajaran optimal

Peranan guru dalam proses pembelajaran optimal memiliki berbagai bentuk sesuai dengan pengaruhnya terhadap sikap, struktur motivasi dan ketrampilan kognitif anak.

3.  Penilaian Pembelajaran

Sebagai konsekuensi dari pembelajaran optimal, ada pada sistem penilaian. Penilaian tidak semata-mata diarahkan untuk mengukur hasil belajar saja. Penilaian kegiatan pembelajaran harus mencakup hasil dan proses belajar anak. Penilaian hasil maksudnya penilaian terhadap penguasaan pengetahuan anak. Sedang penilaian proses mengacu pada penilaian terhadap kualitas aktivitas belajar anak.

4.  Pemanfaatan sumber-sumber belajar

Ada dua macam sumber belajar yaitu:

    1. Sumber belajar yang memang dikembangkan dan disiapkan untuk membantu belajar, yang merupakan komponen sistem pembelajaran, biasa disebut “resources by design”.
    2. Sumber belajar yang tidak secara khusus untuk pembelajaran, tapi dapat digunakan untuk belajar, yang biasa disebut “resources by utilization” (Suprihadi, 1993:9).

5.  Interaksi-Komunikasi dalam Pembelajaran

Pola arus interaksi guru-murid di kelas memiliki berbagai kemungkinan arus komunikasi. Sedikitnya menurut H.C Lindgren dalam Raka Joni (1980), ada empat pola arus komunikasi:

  1. komunikasi guru-siswa searah
  2. komunikasi dua arah — arus bolak-balik
  3. komunikasi dua arah antara guru-siswa dan siswa-siswa
  4. komunikasi optimal total arah.

Arus komunikasi dalam pembelajaran ada pula yang membedakan kedalam dua jenis, yakni one way traffic comunication dan two way traffic comunication.

C. Prinsip-prinsip Umum Pembelajaran Optimal

1. Prinsip Motivasi Belajar

Motivasi menjadi sumber tenaga bagi perilaku belajar anak. Tanpa disertai motivasi yang kuat, anak tidak akan memiliki usaha yang kuat untuk beraktivitas belajar. Sebaliknya, dengan motivasi yang kuat, dapat menjadi tenaga pendorong kuatnya usaha belajar siswa untuk dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar yang dicapai anak.

Ada dua sumber motivasi yang dapat dijadikan landasan untuk memotivasi anak:

    1. Motivasi yang bersumber dari dalam diri anak

Motivasi yang bersumber dari dalam menjadi kontrol internal bagi anak dalam mengelola perilaku belajarnya sendiri (self management of learning).

    1. Motivasi yang bersumber dari luar diri anak

Motivasi yang bersumber dari luar (lingkungan anak), dapat diciptakan guru dengan menciptakan kondisi yang dapat menarik minat anak, misalnya dengan gaya mengajar yang antusias, memberikan balikan, dan memberikan reward or incentives.

2. Prinsip Keaktifan

Rosjidan, dkk (1996:62) menyebutkan, untuk menciptakan keaktifan anak, kegiatan pembelajaran perlu memperhatikan berikut ini:

    1. Tercipta situasi kelas yang memungkinkan siswa belajar dengan bebas dan tidak terancam, namun tetap terkendali.
    2. Kecuali menunjukkan kerangka dasar, siswa lebih bersifat tut wuri handayani dalam proses pembelajaran.
    3. Siswa dihadapkan dengan topik-topik yang problematis.
    4. Tersedia sumber dan media belajar yang diperlukan siswa.
    5. Diupayakan adanya pemanfaatan metode, teknik, dan media pembelajaran yang bervariasi namun tetap relevan dengan tujuan.
    6. Proses belajar yang benar dipandang sam pentingnya dengan pemerolehan hasil yang benar.
    7. Terjadi interaksi dan komunikasi multiarah antara guru dengan para siswa atau anak.
    8. Ada sistem reward atau penghargaan yang dapat memuaskan dan meningkatkan motivasi siswa.
    9. Ada kesempatan bagi siswa untuk memperoleh bantuan dan memecahkan masalah-masalahnya, baik akademik maupun pribadi.

 3. Prinsip Pembelajaran Individual

Istilah pembelajaran individual mempunyai arti yang luas, bisa berarti setiap siswa diberi kebebasan untuk maju berdasarkan kemampuannya dan kecepatannya masi-masing. Ia juga bisa berarti setiap siswa diberi kesempatan memilih tujuan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing. Individual juga bisa berarti memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih tujuan pembelajaran dan menunjukkan tingkat penguasaannya dalam berbagai cara (laporan, ujian tulis, ujian lisan, dan sebagainya).

4.   Prinsip Belajar Tuntas

Ada dua macam konsep belajar tuntas:

  1. strategi belajar tuntas perorangan
  2. strategi belajar tuntas kelompok

Namun demikian keduanya berusaha untuk mengembangkan setiap siswa sebaik-baiknya, yaitu dengan cara berikut:

  1. Membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar.
  2. Menyediakan waktu yang cukup unuk belajar.
  3. Memberi kepastian kepada siswa mengenai bahan yang harus dipelajari, baik ruang  lingkup maupun tingkat kesukarannya.

sumber: Suprihadi Saputro (dosen TEP UM)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: